google.com, pub-5388171159716165, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Surat Terbuka Berurai Air Mata Pengawas Ruang PPPK Untuk Pak Menteri Nadiem Makarim - Onmaibana.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Terbuka Berurai Air Mata Pengawas Ruang PPPK Untuk Pak Menteri Nadiem Makarim

Surat Terbuka Berurai Air Mata Pengawas Ruang Ujian PPPK Untuk Mas Nadiem

Mungkin beberapa dari kalian sudah banyak yang sudah membaca tulisan beliau ini, tulisan ini merupakan tulisan seorang Pengawas ruang PPPK yang bernama Novi Khassifa.
 
Ketika saya membaca tulisan beliau ini hati saya menangis dan langsung terbayang begitu beratnya perjuangan para guru honorer apalagi yang sudah mendekati usia senja namun masih terus berjuang untuk mendapatkan apa yang di harapkan selama bertahun – tahun bahkan puluhan tahun. 

Akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi niat iklas mereka dan tetap setia mengajari anak-anak di pelosok negeri ini membaca dan mengeja. Beliau mungkin tidak tega dan bersedih melihat seoarang bapak tersebut, sehingga beliau menuangkannya menajdi sebuah tulisan yang penuh makna dan harapan.

Berikut tulisan beliau :
Surat Terbuka Berurai Air Mata Pengawas Ruang PPPK Untuk Mas Nadiem

Yang terhormat,
Mas menteri
Nadiem Makarim
 
Tak adakah rasa ngilu di dalam dada mas menteri melihat sepatu tua yang lusuh ini?
Memang benar sepatu tua ini terlihat bermerek, tetapi tahukan ini hanya sepatu loak apkiran

Tahukah Mas menteri,
Sepatu ini telah dipakai bertahun-tahun lamanya oleh si empunya
Seorang bapak dengan pakaian putih lusuh dan celana hitam yang warnanya sudah tak hitam lagi karena pudar. 

Mendekati usia senja masih setia mengajari anak-anak di pelosok negeri ini membaca dan mengeja
Di saat putus pengharapan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Beliau tetap semangat. Tak sekedar mengajar tetapi mendidik

Gaji di bawah lima ratus ribu sungguh tak cukup untuk makan sebulan. Apalagi untuk membeli sepatu
Terpaksa di saat pulang mengajar beliau mencari pendapatan tambahan sebagai pekerja serabutan
Tahun ini mas menteri memberikan secercah harapan untuk beliau. Program PPPK untuk memberikan harapan kehidupan yang lebih layak

Tetapi tahukah mas menteri? soal-soal yang mas menteri berikan hanya teori belaka saja. Tak sebanding dengan praktik pengabdian berpuluh-puluh tahun lamanya

Soal-soal yang membuat beliau terseok-seok ketika memegang mouse dan membuat kepalanya pening
Akhirnya, PASSING GRADE pun tak diraih. Pecahlah tangis beliau di dalam hati. Terlihat jelas ketika nilai-nilai itu terpampang di layar monitor. Beliau terdiam seribu bahasa.

Entahlah, apa yang dipikirkan. Melihatnya sayapun ikut terisak.

Memang benar beliau tak secerdas, sejenius, sekreatif mas menteri. Tetapi beliaulah yang menjadi pelita di tengah gulita buta aksara di pelosok negeri

Memang benar beliau tak pandai teknologi, tetapi tanpa teknologi beliau mampu membuat anak-anak negeri ini merangkai kata dari A hingga Z. Berhitung hal-hal dasar untuk memahami hidup

Memang benar para muridnya sebagian besar menjadi TKI dan TKW. Tapi tahukah mas menteri, bukankah mereka juga merupakan pahlawan penghasil devisa negara tercinta ini?

Beliau mempunyai andil yang besar dalam membangun negeri tercinta ini.

Sudi kiranya mas menteri memberikan keringanan untuk melihat beliau bisa menikmati masa tua dengan sepatu dan kehidupan yang layak

Tak usah diperumit

Jika tidak ada kebijakan untuk mengangkat derajat mereka, setidaknya di surga besok sepatu ini akan menjadi saksi bahwa ilmu yang beliau ajarkan sangat bermanfaat untuk keberlangsungan umat

Dari saya,
Novi Khassifa
Pengawas ruang PPPK
Ditulis dengan berurai air mata

Sebelumnya saya mohon maaf terlebih dahulu karna sudah membuat artikel ini tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada penulisnya, dan melalui artikel ini saya berharap agar lebih banyak lagi orang – orang yang membaca tulisan dari kak Novi Khassifa ini dan sesuai dengan harapan beliau agar tulisannya bisa terus di bagikan dan mudah – mudahan bisa sampai dan terbaca oleh pak menteri.

Harapan saya semoga kelak kedepannya ada sebuah jawaban dari harapan para guru honorer khususnya yang sudah berusia senja atau yang sudah lama mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak bangsa.

Mudah – mudahan ada kebijakan atau keringan untuk memudahkan mereka mendapatkan apa yang selama ini di harapkan, sehingga mereka bisa menikmati masa tua mereka dengan senyuman dan rasa bangga.


Posting Komentar untuk "Surat Terbuka Berurai Air Mata Pengawas Ruang PPPK Untuk Pak Menteri Nadiem Makarim"